Brebes -
Masyarakat diberikan dua pilihan untuk kemajuan desanya, tarik atau dorong.
Tarik untuk kemajuan desanya atau dorong untuk kemajuan desanya.
Disampaikan Pemerhati Kesehatan Ibu
dan anak dari Desa Kaligiri Kecamatan Sirampog Brebes Kalimi, saat memberikan
paparan pada Pertemuan Lokakarya Penyepakatan Modeling Desa Siaga Kesehatan Ibu
dan Bayi Baru Lahir (KIBBLA), secara Daring, Kamis (12/8/2021).
Kalimi menjelaskan bahwa
keberhasilan mewujudkan desa siaga KIBBLA dibutuhkan komitmen yang kuat dari
semua pihak yang ada di desa. Usulan dari bawah atau button up, merupakan
pondasi yang kuat sebuah gerakan di desa.
"Awalnya memang terasa berat,
merubah pemikiran masyarakat untuk peduli terhadap KIBBLA. Tetapi setelah
mereka memahami justru merekalah yang gerakannya sangat masif, kekuatan bersama
inilah yang menjadikan Desa Kaligiri menjadi desa yang berhasil dalam
penanganan KIBBLA," terangnya.
Narasumber lainnya dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Brebes, dr. Rudi Pangarsaning Utami, M.Kes selaku Kepala
Bidang Kesehatan Masyarakat mengatakan bahwa dampak dari pandemi covid-19
sangat terasa pada kematian ibu dan bayi baru lahir. Bukan hanya di Brebes tetapi
semua kabupaten dan kota di Jawa Tengah mengalami hal yang sama.
"Di Bulan Juli 2021 Brebes
mengalami lonjakan yang sangat tinggi kasus AKI yaitu 33 kasus, sampai dengan
Juli kasus AKI ada 68 kasus," kata Utami.
Kegiatan Lokakarya ini dihadiri
oleh Dinas Kesehatan, Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan, Badan
Kesbangpol, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Puskesmas Wanasari, Puskesmas
Tanjung, RS Mutiara Bunda, RS Bhakti Asih, Pemdes Sengon, Pemdes Pesantunan, PT
Charoen Pokphand Jaya Farm, PT Yeon Heung Megasari, BAZNAS, seluruh seluruh
organisasi yang tergabung dalam Komunitas Brebes Bersama (KOBBER). Hasil pada
pertemuan lokakarya tersebut adalah dokumen kesepakatan Modeling Desa Siaga
KIBBLA.